Halo, perkenalkan namaku Ino. Aku adalah seorang gadis yang dulu tinggal di Aceh dan sekarang tinggal di daerah Ciputat, Tangerang Selatan. Dulu aku tinggal di sebuah kota kecil bernama Meulaboh tepatnya di Aceh Barat. Aku pindah ke Tangerang setelah lulus kuliah karena kedua orang tuaku ingin berdagang di sini. Awalnya, aku menolak karena sebenarnya aku sudah mendapat pekerjaan berupa mengajar anak-anak di Aceh namun kedua orangtuaku ingin aku tetap ikut bersama mereka. Hari-hari tinggal di kota baru kujalani dengan penyesuaian yang cukup berat. Mulai dari perbedaan bahasa, gaya pakaian, makanan, sampai transportasi.
Di Aceh, transportasi yang umum digunakan adalah mobil dan motor. Aku bisa mengendarai motor tetapi kalau harus mengemudi jauh aku takut. Aku hanya mengendarai motor untuk bekerja, belanja, atau ke rumah teman yang jaraknya tidak jauh. Suatu hari, tetangga sekaligus temanku mengajakku untuk naik kereta dan Transjakarta. Dia mengajakku ke museum nasional, masjid Istiqlal dan pasar Tanah Abang. Rasanya menyenangkan karena aku bisa pergi ke tempat yang belum pernah aku kunjungi. Sayangnya, dia juga punya kesibukan sendiri jadi tidak bisa selalu aku ajak untuk pergi ke tempat jauh. Aku tahu cara memesan ojek online, tetapi untuk pergi sendiri naik kereta aku masih belum berani.
Suatu hari, teman menulisku mengajakku untuk pergi ke event membaca bersama di taman literasi Martha Christina Tiahahu. Ah rasanya pasti menyenangkan. Aku ingin pergi bersama dia, tetapi tempat tinggal kami jauh. Dia sudah menyarankan aku untuk naik kereta, tetapi aku masih takut. Jadi aku memutuskan untuk naik ojek online saja. Meskipun aku harus merogoh kocek lebih banyak, tidak apa-apa setidaknya aku tidak tersesat.
Aku punya alasan mengapa tidak berani naik transportasi umum. Saat itu aku baru kelas satu SMA dan pulang pergi sekolah bersama dengan abangku. Namun saat itu entah mengapa abangku sangat terlambat menjemputku, jadinya aku memutuskan untuk naik bis sendiri. Aku salah naik jurusan dan justru semakin jauh dari tempat tinggalku. Untungnya sopir bis itu berbaik hati mau mengantarku pulang. Di rumah aku dimarahi serta diledek oleh semua keluargaku. Ya mungkin itu memang salahku juga karena tidak bertanya dulu sebelum naik bis. Sejak saat itulah aku merasa agak takut kalau naik transportasi umum sendirian.
Beberapa bulan setelah itu tepatnya di bulan Ramadan, salah satu teman menulisku mengirimi aku undangan untuk buka puasa bersama. Aku tidak pernah bertemu langsung dengannya padahal kami sama-sama tinggal di daerah Jabodetabek. Selama ini kami hanya berkomunikasi lewat online atau zoom bersama teman-teman menulis lain. Aku ingin, sangat ingin ikut buka puasa bersama. Jadi di Sabtu sore itu, aku sudah menyiapkan diriku. Sebelum memesan ojek online tepatnya lewat aplikasi Gojek, di aplikasi itu ada pilihan untuk transit ke stasiun KRL terdekat. Go Transit namanya. Aku awalnya ragu karena pengalamanku pernah tersesat, tetapi kalau menggunakan fitur itu aku bisa menghemat biaya perjalanan. Sempat sekitar sepuluh menit, aku berpikir dan akhirnya aku memilih fitur Go Transit itu. Pertama ojek online datang dan langsung mengarahkan aku ke stasiun KRL terdekat. Tepatnya saat itu stasiun yang kutuju adalah stasiun Jurangmanggu. Kemudian, dia memanduku untuk nanti turun di stasiun Palmerah sesuai dengan lokasi tujuan yang sudah aku input. Aku menaruh tas ranselku di bagian depan dada dan memeluknya erat. Takut kalau sampai ada orang jahat yang sengaja mencuri dompet apalagi handphoneku. Sepanjang perjalanan aku berdoa dalam hati semoga semuanya baik-baik saja. Setelah sampai di stasiun Palmerah, aku kembali memesan ojek online menuju ke lokasi buka bersama yaitu Bentara budaya Jakarta Kompas.
Aku senang karena akhirnya bisa bertemu langsung dengan teman-teman karena biasanya hanya mampu berinteraksi dengan ponsel. Mereka rata-rata juga naik kereta sehingga ketika pulang aku bersama mereka menuju stasiun. Rupanya stasiun Palmerah dan lokasi tempat kami buka puasa tidak terlalu jauh dan mampu ditempuh dengan berjalan kaki. Ya walaupun aku agak sedikit boros karena tidak mengetahui hal itu, setidaknya aku tidak tersesat. Untuk rute pulang, aku kembali menuju arah stasiun Jurangmanggu dan kembali ke rumah dengan naik ojek online lagi.
Sejak saat itu, kini aku sudah berani untuk naik transportasi umum. Baik KRL, MRT, dan Transjakarta. Rasanya menyenangkan sekali bisa naik transportasi umum karena selain harganya murah, hemat, aku kini bisa mengunjungi berbagai tempat yang belum pernah aku datangi. Aku juga bertemu dengan banyak teman-teman baru, belajar banyak hal baru, serta mengetahui lebih banyak hal tentang kota tempat tinggalku yang baru. Aku sangat bersyukur karena saat itu aku berani untuk melawan ketakutanku. Kalau saat itu aku takut, mungkin hari-hari indah seperti ini tidak akan datang. Satu keputusan kecil itu, sudah berhasil mengubah hidupku selamanya menjadi lebih indah.

Comments
Post a Comment