Skip to main content

Cerpen : Kabur

 


Senja itu, aku kembali ke rumah orang tuaku setelah sekian tahun memutuskan untuk kabur. Bagiku, rumah itu bukanlah rumah. Hanya sebatas bangunan kosong. Keluarga yang seharusnya menjadi penyemangat hidup dan tempat paling aman justru menjadi alasan kuatku untuk pergi dari tempat ini. Setelah semuanya selesai, aku akan kembali ke kota. Mengubur semua kenangan mengerikan itu dan membuka lembaran hidup yang baru. Aku membawa sisa buah-buahan dan sayuran dari kebun. Setelah selesai menjual rumah ini aku akan punya banyak uang. Aku tidak mau mengingat mereka lagi.

Prak! Sebuah benda jatuh dari atas meja ketika aku sedang sibuk mengemasi barang-barangku.

“Ah ternyata kamu di sini. Akhirnya aku menemukanmu.”

Sebuah pisau kecil berwarna merah muda itu aku genggam dengan erat. Ada cerita di balik pisau ini sepuluh tahun lalu. Karena teman kecilku inilah, aku mampu membulatkan tekad dan kabur untuk menemukan kebahagiaanku.

Sepuluh tahun lalu

“Hei perempuan! Mana makananku!”

“Sebentar kang, Saya sedang masak.”

“Lambat sekali kamu. Suamimu ini sudah kelaparan!”

“Maafkan aku kang. Ini silakan makan.”

Prang! Lagi-lagi ayah membanting piring dan kemudian tangannya dengan cepat menampar pipi ibu.

“Dasar wanita tidak berguna. Tempe lagi tempe lagi kamu pikir aku tidak bosan makan tempe terus! Kamu sebenarnya bisa masak tidak!”

“Maaf... Maafkan aku kang.”

“Huh... Sudahlah aku mau pergi keluar saja. Rapihkan rumah dan bersihkan piring itu. Dasar perempuan payah.”

Ibuku adalah wanita yang bodoh. Aku tidak pernah mengerti kenapa ibu mau menikah dengan ayah yang jelas-jelas tidak pernah mencintai ibu. Tidak pernah sekalipun aku pernah melihat ayah memeluk apalagi mencium ibu. Ayahku adalah laki-laki bajingan yang bahkan tidak pantas disebut ayah. Aku heran kenapa ibu tidak pergi saja meninggalkan ayah. Padahal wajah ibuku cantik, otaknya pintar, beliau juga rajin bekerja. Ibu layak mendapatkan cinta dari laki-laki yang baik. Pasti di luar sana ada banyak peluang besar bagi ibu tetapi beliau justru tetap memutuskan tinggal di rumah tua ini. Kalau bukan karena kasihan pada ibu, sudah lama aku pergi dari rumah ini. Ini bukan rumah. Hanya sebuah bangunan untuk berteduh tanpa cinta di dalamnya.

Malam itu ayah kembali pulang dalam keadaan mabuk. Wajahnya merah dan kepalanya sepertinya habis terbentur. Dia kesal karena hari ini kalah lagi taruhan judi. Uang kami semakin menipis saja. Syukurlah di halaman rumah kami masih ada banyak sayuran seperti sawi, tomat, terong dan juga cabai. Ibuku sangat lihai dalam merawat tanaman. Beliau juga pintar membuat tempe. Ibu biasanya menitipkan tempe buatannya ke tukang sayur sekaligus menjual hasil panen kebun kami sehingga kami tetap memperoleh uang untuk makan sehari-hari. Berharap kepada ayah hanya akan membuang-buang waktu, pikiran serta tenaga. Ayahku adalah pria egois. Padahal tanpa ibu, aku yakin kehidupannya akan lebih parah. Mungkin saja dia akan mendekam di penjara. Atau sengaja merampok dan habis babak belur di hajar warga. Sumpah aku tidak pernah mengerti mengapa ibuku yang cantik dan baik hati bisa terjebak dengan lelaki ini dan melahirkan aku dalam keadaan serba kekurangan. Kadang aku berpikir. Sebenarnya apa alasan ibu sampai mau menikah dengan ayah? Ah aku jadi penasaran.

Jujur sebagai anak tunggal perempuan, sebenarnya aku selalu mengidamkan sosok ayah yang ideal. Ayah adalah lelaki pertama sekaligus cinta pertama anak perempuannya. Namun sosok itu tidak pernah ada dalam diri ayahku. Mungkin pernah sekali. Ketika beliau pulang tidak dalam keadaan mabuk dan tidak memukul ibu seharian penuh menurutku saat itulah bisa dibilang ayahku adalah ayah yang ideal. Setidaknya sekali saja aku pernah melihat ayah berlaku seperti itu. Setelahnya, seperti yang sudah-sudah. Ayah pergi dan pulang seenaknya. Makan sambil membanting piring. Entah sudah berapa banyak piring pecah karena ulah ayah. Pokoknya aku sudah membulatkan tekad. Setelah lulus SMA aku akan pergi merantau jauh dari tempat ini. Aku sudah tidak tahan lagi hidup di rumah seperti ini.

“Kenapa kita harus hidup seperti ini Bu!”

“Jaga mulutmu Pita! Bersyukurlah kamu masih punya orangtua lengkap dan selalu bisa makan.”

“Aku sudah tidak tahan hidup di rumah ini. Aku benci rumah dan ayah. Kita bisa hidup berdua saja! Ayo ibu kita tinggalkan saja ayah.”

“Dasar para perempuan menyebalkan! Sedang sibuk apa kalian berdua! Cepat siapkan aku kopi! aku sudah lelah seharian diluar.”

Ibu segera melepaskan tanganku dan pergi ke dapur untuk membuat kopi. Aku lantas berpura-pura membersikan piring bekas makan malamku dan berusaha untuk tenang. Ayah pasti barusan mendengar suaraku. Aku benci ayah. Aku tidak suka rumah ini. Kejadian setelah itu sungguh membuat luka batin dalam di hatiku.

“Pita anakku kamu cantik sekali. Kenapa kamu mau pergi dari rumah?”

“Aku tidak suka. Ayah selalu saja mabuk dan menyakiti aku dan ibu.”

“Kamu salah. Ayah tidak pernah membencimu. Sini anak ayah.”

Ayah lantas mendekatiku kemudian memelukku. Rasanya hangat. Dia kemudian mengelus kepalaku dengan lembut. Namun setelah itu ayah berusaha menyingkap rokku. Mencium bibirku. Bahkan meremas payudaraku. Sakit. Sakit sekali. Badanku yang kecil sungguh tidak sebanding dengan tenaganya.

“Tolong! Ibu!”

“Hentikan Pita. Ayah bisa membuatmu enak.”

Kali ini Ayah kembali berusaha untuk membuka rok dan bajuku. Aku marah! Mataku sekilas menatap pisau kecil yang tadi aku gunakan untuk mengupas apel. Segera aku gunakan pisau itu dan melukai mata ayah.

“Argh... Sial!”

Aku kemudian dengan cepat mengambil tabunganku di kamar dan lari. Lari... terus lari tanpa melirik ke arah belakang lagi. Aku benci ayah. Aku tidak menyangka dia tega berbuat seperti ini. Mataku tak henti basah. Ibu maafkan aku. Pita tidak sanggup hidup di sana lagi. Ini bukan rumah. Ini penjara.

Tanganku masih menggenggam pisau kecil berwarna pink itu. Lantas segera aku bungkus dengan kain dan ku letakkan di tas kecil milikku. Sampai sekarang kadang aku ngeri membayangkan tingkah ayah. Sekaligus kesal dengan sikap ibu yang tertutup dan selalu berdiam diri bahkan ketika dia melihat anak perempuannya di lecehkan di depan matanya. Orangtua sialan! Sudahlah itu juga sudah masa lalu. Aku tidak mau mendoakan mereka. Hatiku masih begitu sakit dan belum sembuh. Kutarik napas perlahan dan membawa seluruh sisa barangku. Kini aku siap untuk hidup tanpa bayang-bayang mereka lagi di tempat yang baru.


Comments

Popular posts from this blog

Menyikapi Masa Kecil dan Dewasa Lewat Anime Minky Momo

  Love love Minky Momo, cobalah kau dengarkan Love love Minky Momo, yang ada di hatiku Ratu penyihir (penyihir) Dengan rasa berdebar Ada yang menunggu (menunggu) Di seberang jalan itu Berputarlah waktu (berputar) Kisah cerita mimpi Bertemu denganku (bertemu) Aku yang bagaimana Ingin menjadi apa setelah dewasa Ingin menjadi apa tak terbayangkan... Dreaming semoga mimpimu menjadi nyata Love Love Minky Momo Cobalah kau dengarkan Love Love Minky Momo Yang ada di hatiku Gimana? Kalau kamu membaca tulisan tersebut sambil bernyanyi maka kemungkinan besar kamu sudah tua. Magical Princess Minky Momo atau Minky Momo adalah anime Jepang yang bercerita mengenai seorang gadis yang memiliki kemampuan untuk berubah wujud menjadi orang dewasa dengan menggunakan kekuatan sihir. Di Indonesia Minky Momo pernah tayang di stasiun televisi Spacetoon yang sayangnya sekarang sudah berhenti mengudara. Sedikit sinopsis tentang cerita anime ini. Minky Momo adalah putri dari negeri Fenarinarsa, negeri impia...

Pintu Masa Lalu

  Jujur aku kagum dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang ditemukan oleh para manusia. Dulu kita harus menggunakan kuda untuk bepergian hingga akhirnya mobil ditemukan. Manusia bermimpi untuk terbang seperti burung, hingga terciptalah pesawat sehingga manusia bisa pergi mengelilingi berbagai belahan dunia. Bahkan sekarang manusia menciptakan sistem sehingga bisa berhubungan jarak jauh, berbagi ilmu dan informasi secara cepat, melalui internet yang bisa dibilang di zaman dulu adalah sebuah kemustahilan. Sesuatu yang awalnya tidak masuk akal, tetapi kini telah menjadi kenyataan. Ada satu penemuan yang masih belum bisa dijangkau oleh nalar manusia. Yakni penemuan untuk bisa menjelajah waktu. Hebat bukan kalau kita bisa melompati lintasan waktu. Menyaksikan peristiwa sejarah secara langsung. Melihat kemajuan teknologi di masa mendatang. Tetapi hal ini masih sangat sulit untuk dilakukan. Kalau seandainya aku bisa memilih, maka aku berharap suatu saat akan ada pintu ajaib untuk bisa perg...

Review Buku: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya

  Judul buku : Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya Penulis : dr. Andreas Kurniawan, Sp.K Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Cetakan Pertama : Februari 2025 Tebal halaman : 205 halaman Sinopsis buku Jawab dengan cepat. Seandainya terlahir kembali di kehidupan berikutnya, kamu ingin menjadi apa? Berikut beberapa jawaban unik yang pernah kudengar baik dalam ruang praktik maupun ketika ngobrol santai dengan teman-teman: ”Aku ingin menjadi ubur-ubur, melayang bebas tanpa tekanan atasan dan ekspektasi sosial.” “Aku ingin menjadi pohon pinus, karena tinggi dan keren.” “Aku ingin menjadi ikan mas koki. Katanya memorinya Cuma bertahan lima detik, jadi aku tidak akan overthinking.” Suatu hari, seorang pasien perempuan mengatakan bahwa ia ingin terlahir kembali menjadi bunga matahari. Terdengar sangat indah, ya? Tapi, di sesi berikutnya, dia merevisi pendapatnya. “Aku ingin menjadi pohon semangka di kehidupan berikutnya.” Kehidupan seperti apa yang dia...