Judul buku: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Penulis: Brian Krishna
Penerbit: PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Cetakan Pertama : Januari 2025
Tebal halaman: 216 halaman
Sinopsis buku
Seperti malam-malam yang lain, aku pulang selepas lembur. Orang-orang di kantor yang sudah menikah, mereka akan pulang ke keluarganya masing-masing. Sementara aku yang tidak punya siapa-siapa ini, sekarang masih duduk sendirian di parkiran mobil yang sudah lengang, bersama sebotol bir, rokok murah, dan sepotong kue ulang tahunku sendiri yang ku beli dari toko manisan dekat kantor.
Aku takut kalau ternyata selama ini aku tidak pernah berhasil menjalani hidup seperti sebagaimana seharusnya. Di kepalaku sekarang, pertanyaan ini semakin lama semakin membesar. Pantaskah hidup ini ku lanjutkan?
Aku berdiri menatap ke langit malam. Kini tekadku sudah bulat. Aku akan bunuh diri 24 jam dari sekarang.
Review Buku
Setiap kita pasti punya sisi rapuh yang tidak pernah kita perlihatkan kepada orang lain. Kehidupan menjemukan, dibully karena fisik yang kurang, tidak dianggap ada, dan selalu diabaikan merupakan beberapa alasan seseorang hendak mengakhiri hidupnya. Toh pada akhirnya kita juga akan mati kan? Daripada terus menerus batin ini tersiksa karena tidak kuat menahan perihnya hidup, bukankah lebih baik kita mengakhirinya saja agar rasa sakit ini segera sirna. Benarkah demikian?
Buku ini menceritakan tentang sosok Ale. Seorang pekerja kantoran di jakarta yang merasa selalu gagal dalam kehidupannya. Tidak pernah dianggap ada oleh orang-orang di kantornya, direndahkan oleh orangtuanya sendiri, dihina karena fisiknya yang kurang dan merasa tidak pantas untuk dicintai membuat Ale hendak mengakhiri hidupnya sendiri. Namun keputusannya untuk menunda bunuh diri demi semangkuk mie ayam yang menjadi makanan favoritnya, membawa dia masuk ke dunia yang tidak pernah dia bayangkan. Perjalanan hidup bertemu berbagai orang dengan latar belakang dan kisah hidup yang juga terasa sedih, berat, kejam, dan haru membuatnya terinspirasi dan perlahan mulai bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
Menjadi dewasa memang tidak pernah mudah. Kamu dituntut untuk terus berjalan. Tidak peduli sesulit apa keadaanmu saat itu, kamu harus tetap berjalan. Sebab, hidup memang seperti itu. Terkadang kita tidak pernah tahu mengapa Tuhan menakdirkan jalan hidup kita begitu berliku dan berbeda dari orang lain. Namun kalau kita mau membuka mata, telinga, hati dengan lebih lapang, maka mungkin kita bisa memandang kehidupan ini dengan lebih peduli dan tenang.
Satu hal penting dalam buku ini yang ingin disampaikan oleh penulis adalah, kunci untuk bisa bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima. Menerima jika tidak semua hari akan berjalan baik, tidak semua rencana akan berjalan lancar, tidak semua orang akan berlaku baik ketika kamu baik kepada mereka. Dan itu semua tidak apa-apa.
Maybe life is worth living again.

Comments
Post a Comment