Aku kembali menggenggam undangan pernikahan dari teman sekolahku. Ini adalah undangan yang ke 20 dari teman-temanku semasa sekolah. Hatiku perih. Bukan karena aku tidak bahagia melihat temanku akhirnya bertemu jodohnya. Melainkan karena sampai saat ini aku masih saja sendiri.
Orang-orang sering menilai aku sebagai pribadi yang sangat pendiam, pemalu, bodoh, ceroboh dan egois. Padahal kenyataannya aku tidak seperti itu. Aku diam karena aku merasa tidak ada hal penting untuk dibicarakan dan dikira egois karena terlalu sedikit bicara. Aku dianggap bodoh dan ceroboh karena mereka hanya tahu berita-berita buruk tentangku. Apakah aku memang seburuk itu?
Hasratku untuk menikah muncul bukan dari banyaknya undangan pernikahan yang menghampiri, melainkan sejak kematian ayah tercintaku. Sosok pelindung hangat bagiku, kini telah tiada. Begitu cepat. Aku bahkan belum sempat membalas jasanya. Dulu, bisa dibilang aku terlalu mementingkan duniaku sendiri. Sampai lupa, bahwa ada orang yang harus aku bahagiakan.
Sebagai seorang yang pendiam, aku bisa menghitung berapa banyak lelaki yang pernah mencoba mendekati aku. Hanya ada sekitar satu atau dua. Bagiku mereka datang hanya untuk main-main. Mereka hanya berpura-pura , padahal mereka sama sekali tidak tahu apa-apa. Hanya karena tampilan luar, mereka menyerah. Padahal mereka tidak tahu pribadiku seperti apa. Namun sudah berani berspekulasi yang tidak-tidak.
“Mia, kenapa kamu masih di teras? Ayo masuk. Mama sudah buatkan soto ayam kesukaanmu,” ujar mama. Aku pun akhirnya masuk dan benar saja, hujan perlahan turun dari langit. Walau sebenarnya, sedari tadi hujan sudah turun lewat hati dan mataku.
Mamaku adalah wanita paling cantik dan paling tegar di dunia ini. Kematian ayah memang sempat membuat beliau bersedih. Namun dia begitu kuat. Aku ingin bisa seperti mama. Aku ingin menikah dan belajar untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Namun bagaimana caranya. Bahkan sampai di usiaku yang sudah 26 tahun ini, belum ada tanda-tanda seorang lelaki yang hendak meminangku menjadi istrinya. Apakah... Aku ini tidak pantas untuk siapapun?
“Ma... Maafkan Mia ya. Mama pasti kecewa sekali pada Mia.”
“Kenapa sayang?”
“Mama... Mia ingin sekali menikah. Namun bagaimana caranya ma? Sampai sekarang bahkan tidak ada tidak ada tanda orang yang akan menjadi jodoh Mia. Mama... Mia takut. Kalau mama juga pergi... Mia tidak mau. Mia tidak sanggup ma.”
Mama memelukku erat. Membiarkan aku menangis. Sebenarnya aku tidak pantas melakukan hal ini. Aku bisa saja membuat mama sakit dan sedih. Namun, hanya mama yang aku punya.
“Mia sayang, jangan seperti itu Nak. Kamu jangan terlalu keras pada dirimu.”
“Tapi ma, Mia ini memang pendiam dan tidak banyak bicara. Apakah ada laki-laki yang mau sama Mia?”
“Mia... Jodoh itu sudah diatur sayang. Nama orang yang sudah ditakdirkan untuk menjadi pasangan Mia, sudah tertulis bahkan sebelum Mia lahir ke dunia. Tugas kita hanya berusaha menjemputnya.”
“Dengan cara apa ma? Apakah Mia bisa?”
“Bisa sayang. Mulailah dengan merubah sikap, tampilan, dan perilaku Mia agar tidak dikira sombong. Mia harus sering tersenyum.”
“Mia ini sering terlihat datar ya ma? Maaf. Mungkin karena mia ini tidak suka bicara, Mia jadi sering dikira sombong.”
“Mama tahu kok. Mia sebenarnya anak yang baik. Mia harus sering tersenyum, belajar lebih ramah, memperhatikan gaya berpakaian Mia dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Mia harus tetap menjadi Mia. Jangan menjadi orang lain.”
“Apa Mia bisa melakukannya mama. Sejak dulu Mia sudah di cap sebagai anak yang sombong, pendiam dan pemalu. Mia tidak yakin.”
“Mia, cintailah diri Mia sendiri terlebih dahulu sebelum mencintai orang lain. Berdoalah kepada yang maha kuasa sayang. Semoga ketika waktunya sudah tiba, jodoh Mia akan datang kepada Mia.”
Semenjak percakapan dengan mama hari itu, aku mulai mencoba untuk lebih memerhatikan diriku. Benar. Aku memang sering cuek dan tidak peduli dengan diriku sendiri. Baju-bajuku biasa saja. Senyumku kurang. Sikapku yang pendiam sering membuat orang takut. Aku... harus berubah.
Aku mulai memerhatikan diriku lebih dalam. Mulai dari mencoba mencari gaya berpakaian yang paling cocok untukku. Memerhatikan kosmetik dan juga kesehatanku. Peduli akan apa yang aku makan, mulai berolahraga dan beribadah lebih banyak. Rupanya, aku memang kurang memerhatikan diriku.
“Nah, gitu cantik. Anak mama memang cantik.”
Mama memperhatikan penampilan baruku saat hendak ke kantor. Baju tunik biru muda, rok berwarna putih tulang dilengkapi jilbab biru tua yang agak gelap membuatku terlihat anggun. Perkataan mama benar. Kita harus mencintai diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum mencintai orang lain.
Kau tahu bagaimana rasanya menjadi seorang pendiam. Sering dikira tidak bisa bicara. Ya, dulu di masa sekolah aku pernah mendengar temanku bahkan tidak tahu suaraku seperti apa. Mereka bahkan bercanda bisa menghitung berapa kata yang aku keluarkan setiap hari. Padahal sebenarnya aku bisa saja sangat cerewet apabila sudah bertemu dengan teman yang cocok untukku.
Aku juga sering sekali mendengar bahwa ada yang namanya kepribadian ekstrovert dan introvert. Ekstrovert dianggap sosok keren, suka bergaul, dan memiliki banyak teman. Sedangkan sosok introvert dikaitkan dengan sikap tenang, sedikit bicara dan dingin. Aku dianggap introvert, dan aku rasa hal itu memang benar. Aku kadang benci mendengar orang yang mengaku-ngaku sebagai sosok introvert. Asal kalian tahu, seorang introvert tidak akan pernah bilang dengan mulutnya sendiri kalau dia introvert. Karena dia sendiri tidak suka banyak bicara kepada orang yang tidak dianggap dekat.
Belajar mencintai diri sendiri tidak pernah mudah bagiku. Meskipun kini tampilan luarku sudah berubah, namun mungkin di dalam aku masih sama. Terkadang aku membenci diriku sendiri karena tidak bisa mudah bergaul dengan yang lainnya. Namun, perlahan aku mulai belajar. Bahwa kita tidak perlu harus baik kepada setiap orang dan tidak mungkin semua orang akan menyukai kita.
Selain berdoa dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi, aku mencoba untuk belajar tentang ilmu pernikahan. Aku baru menyadari bahwa penyebab banyaknya angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga disebabkan akan kurangnya ilmu. Mungkin, ini adalah salah satu alasan aku belum bertemu dengan jodohku. Bukan karena belum ada, melainkan karena aku yang memang belum siap.
“Ya Allah, aku berdoa padamu. Hanya kepadamu. Tolong bantu hamba untuk bertemu dengan jodoh hamba. Bantulah kami untuk saling menemukan. Bantu kami agar bisa selalu taat kepadamu. Bantulah aku ya Allah. Hambamu ini hanya ingin menikah. Tolong bukakan jalan jodoh bagi hamba. Bantulah hamba untuk menjadi seorang istri dan ibu yang baik kelak. Amin ya rabbal alamin.”
Jalan hidup setiap orang itu berbeda. Oleh karena itu, bukanlah hal yang baik apabila kamu ingin selalu ikut campur dan ingin tahu urusan orang lain. Perihal takdir yang telah digariskan, tidak ada yang tahu kapan bermuara selain Tuhan yang maha mengetahui. Sebagai manusia biasa, kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Aku merindukanmu. Semoga kelak kita bisa segera berjumpa. Calon imamku.
.jpeg)
Kenapa cerita kita sama2 impian mencari jodoh ya mbak. Kita sehati 😆
ReplyDeleteiya kak
Delete