Judul buku: Funiculi Funicula
Pengarang: Toshikazu Kawaguchi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan keenam belas: Februari 2023
Tebal halaman: 224 halaman
Sinopsis buku
Di sebuah gang kecil di Tokyo, ada kafe tua yang bisa membawa pengunjungnya menjelajahi waktu. Kafe tersebut bernama Funiculi Funicula. Keajaiban kafe itu menarik seorang wanita yang ingin memutar waktu untuk berbaikan dengan kekasihnya, seorang perawat yang ingin membaca surat yang tak sempat diberikan suaminya yang sakit, seorang kakak yang ingin menemui adiknya untuk terakhir kali, dan seorang ibu yang ingin bertemu dengan anak yang mungkin takkan pernah dikenalinya.
Namun ada banyak peraturan yang harus diingat. Satu, mereka harus tetap duduk di kursi yang telah ditentukan. Dua, apa pun yang mereka lakukan di masa yang didatangi takkan mengubah kenyataan di masa kini. Tiga, mereka harus menghabiskan kopi khusus yang disajikan sebelum kopi itu dingin.
Review buku
Membaca buku ini, membuat saya teringat kembali dengan judul tulisan saya sebelumnya “Pintu Masa Lalu.” Bercerita tentang mengarungi waktu, novel Funiculi Funicula ini dibawakan dengan gaya tulisan yang santai. Alurnya kadang maju mundur dan di dalam novel ini, terdiri atas empat bagian cerita. Setiap cerita memiliki makna tersendiri tetapi sebagian besar berisi tentang penyesalan, kerinduan, dan cinta. Waktu memang selalu terasa mahal bagi orang-orang yang mengalami hal menyedihkan. Seperti kehilangan orang terkasih, janji yang belum sempat diutarakan, dan satu permintaan maaf. Berharap satu kali saja ada kesempatan, agar bisa mengulang waktu untuk melakukan hal yang belum sempat dilakukan.
Funiculi Funicula. Secara keseluruhan menggambarkan bahwa meski kita kembali ke masa lalu, yang sudah terjadi tidak akan pernah berubah. Sebab ada yang namanya takdir di dunia ini. Meskipun sekuat tenaga kita berusaha mencegah hal tersebut terjadi, apa yang telah menjadi takdir kita, akan tetap kita jalani.
Batasan waktu sebelum kopinya dingin, membuat orang-orang yang pergi menjelajah waktu harus selalu ingat bahwa mereka hanya memiliki sedikit waktu saja. Meskipun sedikit, waktu yang mereka alami cukup untuk membuat hati mereka menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Ada hal yang memang harus terjadi, dan ada hal yang tidak perlu untuk ditanyakan kembali.
Saya suka sekali kalimat penutup dalam novel ini. Yakni, “Kekuatan hati cukup bagi seseorang untuk melewati kenyataan yang dihadapinya, sepahit apa pun kenyataan itu.” Hati yang kuat, membuat kita mampu untuk melewati berbagai cobaan yang Tuhan berikan kepada kita. Misalnya kehilangan orang terkasih. Memang berat kehilangan seseorang apalagi kalau kita sangat cinta dan bergantung kepada orang tersebut. Namun, hati yang kuat mampu membuat kita bangkit untuk terus menjalani hari-hari walaupun dia telah tiada.
Salah satu hal yang agak cukup membingungkan saya, tokoh di dalam novel ini banyak sekali. Awalnya saya agak sulit untuk menghafal nama setiap karakter. Namun semakin saya membaca novel ini, saya sadar bahwa setiap karakter memiliki hubungan erat satu sama lain.
.jpeg)
Comments
Post a Comment