Manusia adalah makhluk sosial. Oleh karena itu, interaksi antara sesama manusia sangatlah sulit untuk dihindarkan. Meskipun kini telah ada media internet yang memudahkan kita dalam berinteraksi jarak jauh, tetap saja itu hanyalah media. Pada dasarnya kehidupan bermasyarakat memaksa kita untuk bisa bersosialisasi, berteman, bekerja, belajar, dengan lingkungan sekitar kita.
Di dalam berinteraksi dengan sesama, ada yang namanya etika. Asal kata etika dari kata Yunani ethos, yang dalam bentuk jamaknya (ta etha) berarti “kebiasaan.” Etika mengacu pada nilai-nilai, cara hidup yang baik,aturan hidup yang baik dan semua kebiasaan yang diturunkan dari orang ke orang atau dari generasi ke generasi. Etika yang baik akan menimbulkan batasan tentang apa yang boleh dilakukan atau ditanyakan kepada orang lain, serta apa yang seharusnya tidak dilakukan.
Beberapa hari ini saya membaca berita di sosial media yang agak miris mengenai perkembangan etika dalam hidup bermasyarakat. Misalnya berita tentang sekelompok anak-anak SMP di Jakarta yang meledek dan menghina anak-anak Palestina yang menjadi korban genosida dari Israel. Candaan yang mereka lakukan di restoran cepat saji menurut saya sama sekali tidak lucu dan membuat hati merasa sedih. Meskipun masih anak-anak, seharusnya bisa mengerti bahwa perang tidak sepatutnya dijadikan candaan. Pendidikan di sekolah yang kurang dan di rumah mungkin tidak ditekankan pentingnya beretika, membuat anak-anak tersebut kurang mengerti bahwa apa yang dia lakukan itu salah dan sama sekali tidak lucu. Belum lagi kemajuan teknologi yang sedemikian pesat, membuat anak-anak zaman sekarang menjadi kurang dalam beretika dan berempati.
Salah satu berita lainnya adalah diusirnya artis Anang dan Ashanty yang menyanyikan lagu romansa di ajang pertandingan sepak bola. Mungkin ini bukanlah sepenuhnya salah artis tersebut. Namun seharusnya sebagai artis, mereka bisa memahami bahwa rasanya tidak pantas menyanyikan lagu romansa ketika ajang olahraga tengah dilaksanakan. Mirisnya lagi banyaknya komentar netizen yang menyalahkan artis tersebut dengan menggunakan kalimat-kalimat yang kasar. Padahal mungkin saja ini akibat kesalahan manajemen stadion dan penyelenggara.
Membangun etika haruslah dimulai sedini mungkin. Pengaruh orangtua, lingkungan, pendidikan, dan informasi membuat etika anak berkembang. Apabila seorang anak tidak diajarkan sejak dini untuk beretika, berempati dan sopan santun, maka tidaklah mengherankan apabila sudah dewasa anak tersebut tumbuh menjadi pribadi yang apatis dan kurang memedulikan orang lain.
Marilah kita kembali belajar untuk lebih beretika untuk membuat kehidupan bermasyarakat yang lebih tertib, harmonis, dan damai.
.jpeg)
Comments
Post a Comment