Pernahkah kamu mengenal tokoh kartun Peter Pan? Bukan, bukan band Indonesia yang kini telah berubah nama menjadi Noah. Peter Pan adalah karakter fiksi yang diciptakan oleh novelis dan penulis drama Skotlandia, JM Barrie. Peter Pan adalah seorang anak laki-laki berjiwa bebas dan nakal yang bisa terbang serta tidak pernah tumbuh dewasa. Peter Pan menghabiskan masa kecilnya yang tiada akhir dengan berpetualang di pulau mitos Neverland sebagai pemimpin Lost Boys, berinteraksi dengan peri, bajak laut dan putri duyung. Kisah tentang Peter Pan bisa kita temukan di berbagai dongeng anak, tayangan kartun animasi Disney, maupun di beberapa film live action. Namun di sini kita akan membahas sebuah gangguan psikologis yang ada kaitannya dengan tokoh Peter Pan yakni Peter Pan Syndrome.
Sindrom Peter Pan (Peter Pan syndrome) adalah kondisi ketika orang dewasa tidak bersikap layaknya orang seusianya, sehingga terkesan kekanak-kanakan bahkan cenderung narsistik (merasa seperti orang yang sangat penting). Kondisi ini dapat berdampak buruk pada hubungan sosial dan aktivitas profesional dari pengidapnya. Ciri-ciri orang yang kemungkinan mengidap Peter Pan Syndrome adalah selalu bergantung dan sering merepotkan orang lain. Sebab mereka merasa tidak dapat melakukan apa pun tanpa bantuan orang lain. Kurang bertanggung jawab, tidak mau mengakui kesalahan, tidak dapat mempertahankan hubungan jangka panjang terutama percintaan, tidak memiliki perencanaan masa depan, tidak ada keinginan untuk mengembangkan diri dan cenderung bersikap kekanak-kanakan. Biasanya orang yang mengalami Peter Pan Syndrome akan lebih suka berteman dengan orang-orang yang cenderung lebih muda dari usianya. Mirip seperti tokoh fiksi Peter Pan, orang yang mengalami Peter Pan Syndrome cenderung terus menganggap dirinya masih muda meskipun umurnya telah menginjak usia dewasa.
Faktor penyebab seseorang bis mengalami Peter Pan Syndrome bisa dari akibat pola asuh orangtua sewaktu kecil. Pola asuh orangtua yang permisif (mudah memberi izin) bisa membuat anak merasa bebas melakukan apa pun yang dia lakukan tanpa batasan. Akibatnya apabila anak melakukan kesalahan, orangtua justru melindungi anak sehingga anak tersebut tumbuh menjadi orang kurang bisa bertanggung jawab, suka memberontak, dan tidak menghargai orang lain. Sementara itu ada pula pola asuh protektif orangtua, yang membuat anak tidak bisa mandiri karena segalanya sudah disiapkan oleh orang tua. Sehingga ketika sudah dewasa, anak tersebut kurang bisa mengambil keputusan dan tidak percaya diri.
Memang sebagai seorang anak, kita tidaklah bisa mengatur bagaimana cara orangtua mendidik kita. Oleh karena itu, semakin bertumbuh dewasa kita harus belajar banyak hal dari lingkungan, teman atau dari internet mengenai cara interaksi yang baik. Kita tidak mungkin menjadi anak kecil selamanya. Apa pun permasalahan yang dihadapi dalam hidup ini, berusahalah sekuat tenagamu. Jika kamu merasa benar-benar mengalami gangguan psikologis yang berat, janganlah malu untuk berkonsultasi dengan psikolog. Supaya mental dan fisikmu tetap terjaga, dan kamu bisa kembali bersemangat menjalani hari.
.jpeg)
Comments
Post a Comment