Apa yang akan kamu lakukan jika orang yang paling kamu cintai tengah bersedih? Kebanyakan orang pasti akan berusaha untuk melakukan apapun agar orang yang dicintai tersebut kembali merasakan kebahagiaan. Mulai dari cara yang biasa, sampai dengan cara yang tidak masuk akal. Semuanya rela untuk dilakukan demi agar orang terkasih tersebut bisa tersenyum kembali.
Di suatu puncak bukit yang dikelilingi awan hitam, konon hidup sebuah bunga yang bisa memberikan kebahagiaan. Bunga ini hanya mekar satu kali dalam dua puluh lima tahun. Awalnya aku menganggap ini hanya gosip yang sengaja disebarkan agar orang-orang tertarik mengunjungi bukit yang telah lama dilupakan itu. Namun kali ini, aku menepis semua dugaanku demi satu tujuan. Memetik setangkai bunga kebahagiaan itu.
Bunga kebahagiaan itu berwarna putih dengan sedikit corak pink. Harum bunga itu bahkan bisa tercium meski kita masih ada di bawah bukit. Sayangnya, untuk bisa memetik bunga ini harus melewati banyak tantangan. Yang pertama, kita harus melewati sebuah jembatan dengan troll kuning yang bertugas menjaga tersebut.
“Hei pemuda, mau apa kamu? Kamu juga hendak memetik bunga kebahagiaan. Ayo coba lawan aku,” seru troll tersebut. Aku lantas memasang muka datar tanpa ekspresi.
“Kenapa aku harus melawanmu?”
“Karena untuk mendapatkan kebahagiaan itu tidak pernah mudah. Ayo coba lawan aku.”
“Aku tidak mau. Ini tidak adil. Kau sangat besar sementara aku ini kecil.”
“Benar juga kalau begitu coba jawab pertanyaan ini? Kebahagiaan itu sulit didapatkan. Apa pernyataanku benar?”
“Salah. Kebahagiaan itu ada di mana saja. Hanya terkadang kita tidak mampu menyadarinya.”
Troll kuning tersebut mempersilahkan aku lewat. Tantangan yang kedua, aku harus melewati gua gelap kebohongan. Katanya gua ini muncul karena ulah seorang anak yang selalu saja bohong pada ibunya. Anak tersebut lalu dikutuk menjadi gua gelap panjang ini.
“Gua yang gelap sekali,” seruku
Ketika aku memasuki gua tersebut, tetesan-tetesan air membasahi kepalaku. Terkadang aku mendengar suara seperti rintihan penyesalan. Aku lalu mengusap sebuah batu hitam besar dalam gua ini.
“Sudahlah. Jangan menangis lagi. Aku tahu kamu sudah menyesal. Kamu tahu, aku yakin ibumu pasti sudah memaafkanmu. Kamu tidak perlu terus merasa bersalah.”
Gua itu pun berhenti mengeluarkan suara. Aku akhirnya mampu melihat cahaya pintu keluar. Aku lalu menyelipkan doa agar sang anak bisa berhenti menyalahkan dirinya lagi. Semoga ibu dari anak ini mau menerima permintaan maafnya. Meskipun memang sudah sangat terlambat.
Tantangan terakhir adalah aku harus mendaki puncak bukit ini tanpa alat bantu apapun. Tanah bukit ini agak licin sehingga aku sangat sulit berjalan. Namun aku tidak mau menyerah. Sudah sejauh ini aku berjuang demi mendapatkan bunga kebahagiaan itu. Akhirnya setelah kurang lebih dua jam, aku berhasil sampai ke puncak bukit ini.
Bunga yang sangat indah. Namun sayang, hanya tersisa satu tangkai saja. Aku lalu memetik dan memegangnya baik-baik. Kemudian aku turun perlahan. Hingga aku tidak sadar seekor ular hampir mematuk kakiku. Aku refleks menjatuhkan diri agar bisa segera menjauh dari ular tersebut.
Bunga yang kudapat hancur. Kelopaknya berguguran. Menyisakan satu kelopak saja. Tangkainya patah. Aku pun pulang dengan hati yang sedih.
“Sayang, aku memetik bunga ini untukmu.”
Aku melihat tatapan kosong istriku yang masih saja bersedih atas kepergian anak pertama kami. Anak yang sudah lama kami nantikan namun Tuhan sudah berkehendak lain.
“Sayangku, aku mohon. Aku rindu kamu. Aku mohon berhentilah bersedih.” Tanpa malu aku lantas menangis di hadapannya. Kemudian dia akhirnya memelukku. Pelukan hangat yang sudah sangat lama aku rindukan.
“Maafkan aku mas. Aku lupa bahwa bukan hanya aku yang merasakan kesedihan ini.” Kami berdua pun berpelukan sambil menangis penuh keharuan.
.jpeg)
Comments
Post a Comment