Sudah sekitar tiga Minggu saya mengikuti program OPREC ODOP (one day one post). Sebuah komunitas yang memperkenalkan sistem One Day One Post, dimana saya menantang diri sendiri untuk memposting 1 tulisan/hari selama beberapa pekan ke depan. Kali ini, saya akan memaparkan satu biografi tokoh yang kini menjadi salah seorang penanggung jawab (PJ) dalam program ODOP ini yakni kak Jamal Irfani (Jirfani).
Kak Jirfani adalah seorang penulis, editor, ghost writer, mentor menulis, dan pembicara. Meskipun latar belakang pendidikannya adalah seorang sarjana psikologi, namun justru pekerjaan-pekerjaan yang tidak terkait langsung dengan latar belakang keilmuannya menjadi hal yang digeluti pertama kali saat memulai karier.
Diantaranya karier yang pernah beliau jalani adalah sebagai Pusat Keberbakatan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (F.Psi UI) sebagai salah seorang trainer. Tenaga pengajar di SMA Negeri 61 Jakarta Timur. Assistant Marketing Officer dan Project Officer Digital di PT Bank Syariah Mandiri dan lain sebagainya. Meskipun demikian, menulis tetap menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kak Jirfani.
Alasan menjadi seorang penulis
Saya selama lebih dari 30 tahun, terbiasa mengikuti apa kata orang. Apa yang orang lakukan, saya ikuti. Apa yang orang sarankan atau lebih tepatnya arahkan, saya ikuti.
Selama 30 tahun lebih, saya merasa tidak melakukan apa yang saya mau.
Lalu, ketika suatu hari saya mencoba menulis, saya merasa menemukan keasyikan. Ada diri sendiri yang merasa terpuaskan.
Bukan karena tulisan saya bagus, melainkan karena saya merasa jadi diri sendiri.
Berangkat dari sana, saya mulai mencoba menulis lagi. Lagi, dan lagi. (Jawaban wawancara dengan kak Jirfani)
Dalam memulai menulis, belum ada orang yang menginspirasi beliau untuk mulai menulis. Kak Jirfani menulis memang untuk ladang katarsis. Yakni Sebatas meluapkan emosi.
Namun, beliau mengaku memang sudah lama terpengaruh dengan gaya menulisnya Hilman Hariwijaya, penulis Lupus. Karena sudah membaca cerita lupus sejak sekolah dasar. Sehingga mau tidak mau, gaya berbahasa alm. Hilman banyak beliau tiru. Kak Jirfani tidak mempunyai waktu khusus untuk menulis dan hanya menulis ketika beliau sempat.
Sumber ide menulis
Biasanya saya coba ulas dari beberapa sudut pandang. Kadang saya ajak ngobrol juga orang terdekat.
Dari anak dan istri, biasanya banyak ide segar yang diperoleh setelah ngobrol dengan mereka. (Jawaban wawancara dengan kak Jirfani)
Dari lingkungan dan kejadian yang dialami sehari-hari, dapat dijadikan inspirasi untuk mulai menulis. Di dalam kamar, di bawah kipas angin sambil tengkurap adalah tempat yang paling disukai kak Jirfani untuk menulis.
Hal yang harus dimiliki untuk menjadi penulis yang baik
Menurut kak Jirfani, seorang penulis itu mesti menulis. Tidak harus menulis buku, blog, ataupun platform lain. Yang pasti harus menulis.
Menulis dengan baik, gagasan yang segar, dan mampu tersampaikan dengan baik.
Maka, yang harus dimiliki penulis adalah:
1. Tau tujuan
2. Ada gagasan
3. Siap menulis
4. Mau menulis
5. Menulis terus
6. Bisa mengendalikan diri
Menjadi seorang penulis memang tidak pernah mudah. Harus ada kemauan, kegigihan, dan tekad yang kuat agar dapat terus konsisten dalam menulis. Semoga pengalaman dan biografi dari kak Jamal Irfani (Jirfani) ini dapat menginspirasi kita semua.
Silakan kunjungi website jirfani.com untuk melihat dan membaca karya-karya beliau ya.

Terima kasih banyak, Kak Inong sudah berkenan mengulas tentang saya. Semoga ada sedikit manfaat yang diperoleh kisah saya.
ReplyDeleteWah inspiratif sekali ya. Menulis dengan visi dan tujuan yang baik, juga terus konsisten. OTW ah ke blognya kak Jamal.
ReplyDeleteBanyak alasan mengapa menulis, salah satunya sebagai media healing seperti kak jamal, ladang katarsis.
ReplyDeleteApapun profesinya sebenarnya perlu perjuangan setiap langkahnya. Pesan untuk menjadi penulis bikin aku semangat. Yang berarti harus punya kemauan
ReplyDelete