Tiada jatuh cinta sebelum akad diucapkan. Itulah sepenggal kalimat dari ustazah yang dulu mengajariku saat aku kuliah. Katanya sebagai seorang Muslimah, hendaknya kita menunggu sambil terus memperbaiki diri agar kelak sang kekasih hati akan menjemput ketika waktu yang ditetapkannya telah tiba. Namun, sebagai seorang wanita biasa, aku pun tak bisa menolak rasa suka yang bergejolak diam-diam dalam dada.
Namaku Ayana. Aku adalah seorang wanita yang telah menjomlo selama 26 tahun. Di usiaku yang sekarang ini, telingaku sudah tidak asing mendengar bisik-bisik yang menyuruhku agar segera menikah. Namun apa daya, sampai sekarang aku masih belum menemukan orang yang sungguh aku sukai. Beberapa kali ibuku mencoba menjodohkan aku agar berkenan menikah, namun aku masih belum tertarik.
“Jangan menimbang terlalu lama, Nak.”
“Cinta nanti akan datang karena terbiasa.”
“Jangan terlalu banyak memilih nanti jadi perawan tua loh.”
Begitu kata ibuku dan sebagian saudaraku yang telah menikah terlebih dulu. Katanya nanti seiring berjalannya waktu, meskipun awalnya kamu tidak mencintainya maka pada akhirnya cinta akan tumbuh di antara kalian. Bahkan beberapa saudara ibuku yang agak menyebalkan berkata aku terlalu kaku dan pendiam sehingga tidak membuat satu pun laki-laki tertarik.
Sebenarnya bukan berarti aku tidak pernah jatuh cinta. Aku pernah merasa suka pada seorang pria. Teman lamaku. Tetapi sampai saat terakhir kali aku bertemu dengannya, aku tidak mengungkapkan perasaanku. Aku hanya takut, kalau dia membenciku. Aku pun teringat dengan kata ustazahku bahwa tidak ada cinta sebelum akad melainkan hanya nafsu belaka.
“Jauhilah zina, sesungguhnya itu buruk bagimu.”
Mendekatinya saja tidak boleh, apalagi kalau sampai terjerumus di dalamnya. Setelah pertemuan terakhir kami, aku kembali ke kota asalku setelah empat tahun merantau untuk kuliah. Mendapatkan pekerjaan sebagai staf administrasi di kantor camat. Bekerja untuk membahagiakan orang tua sampai lupa bahwa umurku semakin bertambah.
Suatu sore seperti biasa setelah aku pulang kerja, ibu memanggilku untuk duduk di ruang tamu.
“Nak, ada anak teman ibu yang tertarik denganmu. Mereka akan datang pekan ini. Cobalah kamu bertemu dengannya siapa tahu cocok.”
“Iya ibu,” jawabku pelan.
Aku tidak pernah menolak saat ada lelaki yang datang ke rumah. Namun sayang belum ada yang membuat hatiku tertarik. Sembari menunggu akhir pekan seperti biasa aku bekerja. Membantu ibu ketika sudah pulang, dan membaca info-info yang ada di internet. Kadang aku juga mendengar kajian atau membaca artikel yang menarik bagiku.
Akhir pekan tiba. Kami berdua berkenalan. Aku bersama ibuku, sementara dia bersama ibunya juga. Aku baru saja tahu kalau dia juga anak yatim sama sepertiku. Bedanya, aku sudah menjadi yatim sejak lahir karena ayahku meninggal. Sementara dia, ditinggalkan ayahnya saat baru berusia lima tahun.
“Kamu tidak merasa sedih karena hidup tanpa ayah?” tanyaku
“Tentu saja ada rasa sedih. Namun aku tetap berusaha kuat demi ibuku dan demi diriku sendiri.”
Perkataan yang sederhana namun mengandung makna yang dalam. Setelah setengah jam berlalu, mereka pun pergi. Rian, lelaki itu tersenyum ke arahku dan aku langsung mengalihkan pandangan tak ingin melihatnya terlalu lama.
“Bagaimana menurutmu Nak? Bukankah dia lelaki yang baik?”
“Aku tidak tahu Bu. Kami baru saja bertemu. Aku takut dia tidak bisa menerimaku. Aku takut dia orang yang kasar. Aku takut...”
“Jangan terlalu ketakutan Nak. Berdoalah kepada Allah. Agar dia menunjukkan dan mendekatkan jodohmu. Kalau kalian memang berjodoh maka insya Allah akan dimudahkan prosesnya.”
Aku memasrahkan diriku kepada Allah. Berdoa agar ditunjukkan yang terbaik. Aku juga bersyukur karena Rian tidak menuntutku untuk segera menjawab. Lalu saat semuanya sudah tenang, sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk ke ponselku. Aku merasa aneh karena dia seolah sangat mengenalku. Lalu dengan perasaan sigap aku memberanikan diri meneleponnya.
“Halo, siapa ini?”
“Ah akhirnya diangkat juga.”
“Siapa kamu aku tanya!”
“Aku Farhan, teman kuliahmu dulu. Kamu Ayana kan?”
Aku terdiam. Farhan, sebuah nama yang tidak akan bisa aku lupakan. Sebuah nama yang diam-diam aku sebut dalam doaku.
“Kamu jangan bohong!”
“Aku tidak bohong kok. Coba kamu lihat ponselmu sekarang.”
“FARHAN!”
“Nah sekarang kamu percaya kan? Bagaimana kabarmu Ayana? Sudah lama kita tak bertemu.”
“Aku baik.”
Pembicaraan kami berlangsung cukup lama. Kami tetap tak membicarakan hal yang istimewa. Hanya hal biasa. Tentang kehidupan kini, tentang masa lalu, dan bertukar kabar. Namun ada perasaan aneh menyelusup di hatiku. Mengapa aku merasa biasa saja terhadap Farhan? Bukankah dia lelaki yang aku sukai? Lantas mengapa aku merasa aneh.
Farhan menghubungiku lagi. Dia menceritakan tentang kehidupannya yang sudah sukses. Lalu dia berkata ingin lebih dekat denganku. Aku bingung. Di satu sisi aku senang karena setelah sekian lama perasaanku terbalaskan, namun entah mengapa aku merasa sangat takut. Perasaan takut yang tidak wajar yang aku tidak tahu apa sebabnya. Aku diam saja dan tak menjawab. Malam harinya aku mengadu pada Allah. Atas perasaanku, keinginanku untuk menikah, dan kebimbangan hatiku. Aku berdoa, lama sekali.
Paginya aku terbangun dengan masih memakai mukena. Rupanya aku ketiduran. Kemudian aku tidak sadar telah menangis, namun hatiku sekarang menjadi lebih lega.
“Ibu?”
“Ada apa sayang?”
“Ayana mau menerima lamaran Rian ibu. Ayana sudah yakin dengan pilihan ini.”
“Alhamdulillah Nak. Ibu akan selalu mendoakan agar pernikahan kalian bisa berjalan dengan baik.”
“Terima kasih ibu.”
Aku tidak terlalu peduli. Kini hatiku merasa bahwa Rian lebih baik dibandingkan Farhan. Setidaknya niat Rian lebih baik dibandingkan Farhan yang tidak jelas mau dibawa ke mana hubunganku dengannya. Tanpa aku sadari, urusan pernikahan kami dimudahkan. Aku merasakannya. Aku hanya berharap nanti aku bisa menjadi istri dan ibu yang baik bagi Rian dan anak-anak kami.
Sebulan berlalu, hubungan antara kami berdua semakin akrab dan mulai mesra. Aku bersyukur karena telah memilih Rian. Dan soal Farhan, aku juga sangat bersyukur telah dijauhkan darinya. Karena tanpa aku tahu, ternyata Farhan adalah seorang penipu. Sudah banyak korban yang dia rugikan. Ternyata dia juga sempat menghubungi beberapa temanku untuk diajak bisnis palsunya. Aku bersyukur karena Allah melindungi aku darinya. Kini aku akan berusaha dan belajar untuk mencintai suamiku dan menjadi ibu yang baik bagi anak kami kelak.

Comments
Post a Comment